Assalamualaikum..
Mumpung di sekolah gak ada kerjaan, saya mau nulis-nulis
sedikit. Di sekolah lagi ada pesantren kilat. Saat aku parkir motor, ketemu
wali kelas 4, dia bilang “Nanti yang ngisi saya saja”. Well, bukan rejekiku untuk
mengajar. Yang penting tetap khuznudzon
aja.
Semoga bermanfaat (terutama untuk diri saya)....
Sekali lagi, jodoh itu layaknya rezeki dan kematian. Telah
tertulis dan tetap akan menjadi misteri yang akan selalu menjadi kuasa Alloh
SWT. Dalam kesadaran tinggi dan batas kebeningan jiwa, tentu kita selaku
manusia hanya mampu menyadari betapa kita tidak cukup kuasa untuk menjangkau
itu semua. Kecuali, sekadar melakukan suatu optimalisasi serangkaian ikhtiar.
Dan berikut ini ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk menjemput jodoh.
Pertama,
memperbaiki diri.
Jika ingin mendapatkan jodoh yang sholih/sholihah, maka kita
harus menjadi dan selalu berusaha menjadi orang yang sholih/sholihah juga.
Sebagaimana firman Alloh “Wanita-wanita
yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah
untuk laki-laki yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik (pula)...(QS An Nuur : 26). Perbaikan di sini berarti secara lahiriyah
dan batiniah. Ada sebagian orang mendambakan jodoh sholih/sholihah tetapi dia
sendiri tidak atau kurang sholih/sholihah.
Kedua, tidak
berputus asa dalam berdoa.
Doa yang baik utntu mendapatkan jodoh adalah seperti yang
terdapat dalam surah Al Furqon ayat 74 : “Ya
Robb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami
sebagai penyenang hati kami, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang
bertaqwa”. Dan berdoalah menurut apa
yang diajarkan Alloh SWT dan RosulNya kepada kita, insya Alloh doa kita akan lebih terkabul.
Ketiga,
meningkatkan kualitas ibadah wajib dan memperbanyak sunnah.
Agar jodoh kita semakin cepat datang, kita wajib ‘mendekati’
Alloh SWT lebih ekstra. Caranya dengan meningkatkan kualitas ibadah wajib dan
menambah ibadah-ibadah sunnah. Seperti sholat tahajjud dan dhuha, shaum,
membaca quran, infak, dan lain-lain.
Keempat, memiliki
kriteria yang tidak muluk.
Boleh jadi jodoh tidak kunjung datang lantaran kriteria yang
ditetapkan terlalu muluk. Selalu menjadikan keunggulan fisik dan materi sebagai
standar tertinggi. Namun justru itu akan mempersulit diri sendiri. Itulah
Rosululloh Saw menganjurkan untuk memilih kualitas agama sebagai standar utama
dalam mencari jodoh. Tentu hal ini memungkinkan jodoh kita orang miskin, tidak
berpangkat, bukan keturunan orang baik, akan tetapi memiliki agama dan akhlak
yang baik.
Seperti kisah Juwaibar. Meski secara fisik kurang mendukung,
namun dia salah satu sahabat yang dicintai Rosululloh Saw karena ketaqwaannya
kepada Alloh SWT. Terbukti, Juwaibar telah menikah dengan Zulfa, putri dari
Ziyad bin Labid yang sholihah, cantik jelita, dari keluarga kaya. Kehidupan
keduanya pun diliputi kebahagiaan.
Kelima,
memperluas pergaulan.
Ini merupakan bagian dari upaya horizontal untuk mendapatkan
jodoh. Dengan pergaulan yang luas kita juga lebih banyak mendapatkan pilihan.
Membuka diri selama masih terkungkung oleh pribadi yang tertutup. Ingat, tak
jarang jodoh itu datang dari perkenalan langsung, tapi dari kenalan teman kita.
Keenam, meminta
tolong orang lain atau menyatakan hasrat secara langsung.
Meminta tolong kepada orang yang reputasinya baik. Atau
biasa disebut guru ngaji, teman, orang tua, saudara, atau yang lain. Atau jika
memiliki keberanian, bisa dilakukan sendiri. Hal ini juga berlaku bagi
wanita/akhowat. Sekalipun cara ini masih terbilang asing dalam budaya
Indonesia, namun cara ini sebenarnya islami. Karena pernah dilakukan Khadijah
ra kepada Nabi Muhammad Saw. Pada masa itu, Khadijah ra menyatakan hasratnya
terlebih dahulu melalui perantaranya kepada Nabi.
Jadi untuk meraih keberkahan dalam ikhtiar menjemput jodoh,
kita harus yakin pada Alloh SWT, bahwa jodoh kita telah tertulis sebagaimana
rezeki dan kematian kita dan pasti tak akan pernah tertukar atau diambil orang
lain. Tak perlu khawatir, ia pasti menemukan jalan untuk menjumpai kita. Ia tak
akan datang terlalu cepat hingga kita harus terburu-buru, tapi juga tak terlalu
lama sehingga kita harus menunggu.
Waallohu’alam
Sumber : Majalah Hadila edisi 63
Tidak ada komentar:
Posting Komentar